Bertemu Miyabi: Porno itu (hanya) ada di pikiranmu!

Walaupun lebih sering melihat Miyabi Naked. Setelah bertemu sekali dengannya, justru senyum manis dan keramahannya lah yang masih saya ingat jelas. Dibandingkan pikiran porno itu sendiri!

Tahun 2010, waktu itu saya masih menjadi journalist untuk FHM Indonesia, saya mendapat tawaran untuk pergi ke Jepang, melakukan interview dan sesi foto dengan Miyabi (Maria Ozawa). Tawaran itu datang dari Maxima Pictures. Miyabi akan berperan dalam film Menculik Miyabi yang merupakan film Indonesia pertama yang diperankan oleh Miyabi dan Maxima Pictures adalah rumah produksi Indonesia pertama yang menjadikan Miyabi sebagai pemerannya. Syuting film Menculik Miyabi dilakukan di Indonesia dan Jepang. Scene yang melibatkan Miyabi dilakukan di Jepang. Miyabi tidak jadi didatangkan ke Indonesia karena adanya penolakan yang dilakukan oleh salah satu ormas di Indonesia. Miyabi dianggap akan merusak moral Indonesia.

Setelah melakukan komunikasi intesif dengan pihak Maxima Pictures untuk keberangkatkan ke Jepang untuk melakukan interview dan foto sesi dengan Miyabi ternyata tak mendapat ijin dari FHM Indonesia. Alasannya sederhana, suasana waktu itu begitu memanas. Penolakan terhadap Miyabi yang dilakukan ormas begitu gencar. Jika saya melakukan foto sesi dan memuatnya di FHM Indonesia akan berdampak negatif terhadap kelangsungan FHM Indonesia ke depan. Dengan berat hati, saya mencoba memikirkan dari sisi manajemen. Dan ‘menganggukan’ tanda merelakan untuk tidak bertemu dengan Miyabi.

Film Menculik Miyabi akhirnya diputar di bioskop-bioskop di Indonesia mulai Mei 2010, walaupun ada juga daerah yang menolak untuk menayangkannya. Padahal film Menculik Miyabi hanya film drama komedi , jauh dari adegan buka-bukaan. Maxima Pictures pun berupaya meyakinkan bahwa Miyabi telah insaf dan film tersebut tidak porno. Sementara, pihak yang menolak tetap bersikeras bahwa Miyabi adalah ikon film porno dan akan merusak moral bangsa. Timbul pertanyaan dalam benak saya, “Apakah ormas-ormas itu sudah pernah melihat film-film porno Miyabi? Sehingga tahu kalau Miyabi adalah ikon film panas?” Saya tak mau tahu jawabannya!

Dicintai sekaligus dibenci
Respon dari film Menculik Miyabi pun beragam di media. Ada media yang melihat bahwa Maxima Pictures mengajak Miyabi untuk bermain film hanya bagian dari strategi marketing agar filmnya mengundang penasaran para penonton untuk menonton filmnya dan akhirnya membuahkan keuntungan. Sedangkan di Jepang sendiri, salah satu kenalan saya seorang journalist dari Jakarta Shimbun, mengungkapkan bahwa Miyabi begitu terharu dan menangis ketika tahu-setelah membaca Jakarta Shimbun, bahwa banyak fans Miyabi di Indonesia. Dia tak menyangka bahwa ia begitu dikenal di Indonesia. Dia pun juga heran mengapa ada banyak juga yang membencinya? Dicintai dan dibenci.

Bertemu Miyabi

Keinginan untuk bertemu Miyabi secara langsung, saya pikir akan pupus. Tetapi kesempatan itu datang lagi. Masih di tahun yang sama, sekitar bulan Oktober 2010, Maxima Pictures mendatangkan Miyabi ke Indonesia untuk syuting film Hantu Tanah Kusir. Seperti ucapan-ucapan para motivator “Jika kita ingin mengapai sesuatu, terus berharap dan berusaha”. Sedikit banyak saya lakukan. Ketika saya menjadi journalist FHM dan bertanggung jawab dengan rubrik “Feature Girls”, saya memang memiliki target-target tertentu yang ingin saya capai. Targetnya itu tentu berkaitan dengan wanita cantik yang ingin saya interview dan melakukan sesi foto untuk FHM. Salah satunya adalah Miyabi. Target melakukan interview sudah ada sejak saya menjadi journalist di Majalah Popular. Dan satu lagi target saya di FHM yang belum terwujud saat itu adalah melakukan interview dan sesi foto dengan Megan Fox. Saya sudah terlebih dahulu resign.

Miyabi datang ke Indonesia dengan nama Pauleen. Tawaran untuk foto Miyabi di FHM terpaksa tidak dilakuan. Hal itu dilakukan untuk menjaga situasi agar tidak ada protes yang berlebihan dari ormas-ormas. Keinginan saya untuk bertemu Miyabi dikabulkan oleh Maxima Pictures dengan mengundang dalam jamuan makan malam bersama Miyabi. Maxima tidak mengundang saya sendiri. Ada beberapa rekan wartawan dari 2 media berbeda yang turut di undang. Dua media ini, sebelumnya melakukan interview dan sesi foto di Jepang. Saya datang mengajak salah satu rekan FHM, Ian.

Saya datang ke kantor Maxima Pictures kemudian menuju rumah makan masakan China di daerah Glodok. Undangan makam malam pukul 19.00 WIB, saya sudah datang pukul 17.00 WIB. Maklum!

Di rumah makan itu, saya masih masih menunggu dan Miyabi belum datang. Ternyata begitu deg-degan. Baru kali ini, saya keringat dingin dan grogi. Sosok yang dinanti pun hadir dihapadapan saya. Seperti coklat yang melumer kepanasan. Seperti seorang yang kena serangan jatung yang berhenti berdetak beberapa saat. Mata memandang tak berkedip, senyum dibuat-buat untuk mengelabui grogi, dan dalam hati air liur menetes kencang. Dengan kaos sederhana, celana traning, dan senyumnya yang manis Miyabi menyapa kami. Inilah wanita yang sering saya lihat ‘naked’ dan kini ada dihadapan saya langsung. Malam itu saya grogi luar biasa!

Mata saya memandang terus kepadanya, namun pikiran jauh melayang dan otak saya mengirimkan sepotong-potong adegan dalam film-film Miyabi. Justru saya semakin grogi.

Makanan pun dipesan. Sementara itu, Maxima Pictures mempersilahkan kami untuk ‘ngobrol’ sambil menunggu makanan dihidangkan. Tidak tinggal diam, saya paling banyak mengajukan pertanyaan. Dan berharap saya mendapat perhatian lebih darinya.

Makanan dihidangkan. Miyabi mulai makan. Saya tetap mengganggunya dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan. Rumah makan masakan China yang dikenal enak dan Miyabi pun sangat menyukai, ternyata tak membuat saya tertarik untuk mengisi perut lapar saya. Saya fokus pada Miyabi. Pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi saya ajukan. Ketika pada pertanyaan, “Gaya bercinta apa yang paling kamu suka lakukan?” Saya mendapat lirikan dari Maxima Pictures, “Ehem..! Jangan!, dia tidak suka ditanya hal-hal pribadi. Bedakan saat dia bermain film dengan kehidupan pribadi”. Wow! Rasa penasaran ini mempengaruhi pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan.

Bagaimana Miyabi senyum, cara dia makan, cara menjawab pertanyaan-pertanyaan. Ia begitu elegan. Ini di luar dugaan. Saya berharap Miyabi itu centil, genit, akan menggoda setiap pria yang ditemuinya dengan keseksian dan kecantikannya. Berharap pria itu adalah saya. Ternyata salah 12! Justru gaya genit dan centil serta murahan lebih banyak saya temui dari artis-artis bom sex lokal yang justru bukan pemain film panas. Jika saya belum pernah tahu atau melihat film-film panas Miyabi, saya tak akan menyangka kalau dia adalah pemain film panas. Jika sebelum bertemu Miyabi, saya berpikiran porno tentangnya dan berharap mendapat hal-hal yang menyerempet ke seks. Ternyata salah 13! Pikiran porno itu hanya ada dalam pikiran saya sendiri. Ia begitu elegan, ramah, sederhana. Ia tidak centil, tak genit, dan tidak murahan sama sekali! Pikiran porno itu hanya ada di pikiran saya dan Anda. Jangan salahkan Miyabi yang pernah bermain film porno. Jika ada kekhawatiran Miyabi akan merusak moral bangsa karena filmnya yang porno. Pikiran porno itu hanya ada dalam pikiran saya dan Anda.

Walaupun lebih sering melihat Miyabi “Naked”. Dan hanya bertemu sekali dengannya, justru senyum manis dan keramahan Miyabi lah yang masih saya ingat jelas dibandingkan pikiran porno itu sendiri. Sekali lagi. Pikiran porno itu hanya ada dalam pikiran saya dan Anda!